Tampilkan postingan dengan label Islam - Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam - Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 12

Tazkiyatun Nafs; Sebuah Intisari Ihya 'Ulumuddin Al-Ghazali


 

Judul : Tazkiyatun Nafs (Mensucikan Jiwa); Intisari Ilhya' Ulumuddin
Penulis : Syaikh Said Hawwa
Penterjemah : Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc
Penerbit : Robbani Press
Tahun : 1999

Review :
Tazkiyatunnafs (mensucikan jiwa), kitab yang ditulis oleh Said Hawwa, merupakan konsep intisari dari karya besar Al Ghazali "Ihya Ulumuddin". Mengulas kembali kitab tersebut dengan berbagai penambahan dan penyempurnaan. Inilah ungkapan Said Hawwa pada Muqaddimah kitab ini;
Kami memilih untuk mengambil inti sari sebagian besar nilai-nilai ini dari Kitab Ihya Ulumuddin yang ditulis oleh Hujjatul Islam Muhammad Al-Ghazali karena beberapa sebab :
1. Al Ghazali menghadapi kelemahan kehidupan spritual di zamannya sebagaimana yang kita hadapi sekarang. Penyakitnya sama dan Al Ghazali telah menjelaskan obatnya dengan baik.
2. Berbagai masalah yang dibahasnya meliputi apa yang telah disebutkan oleh para pendahulunya, sehingga kitabnya memuat hal yang tidak dimuat di kitab lain. Kitab apa saja yang menyangkut hal ini berhutang budi kepadanya.
3.Di dalam Ihya, tertuang intelektualitas dan analisis Al Ghazali. Ia adalah tumpuan harapan realisasi semua yang diyakini dan ditulisnya. Oleh sebab itu, pembicaraannya punya kekuatan dan tenaga di dalam jiwa, yang tidak ada bandingannya dalam pembicaraan para penulis yang lain. Setiap orang yang berinteraksi dengan Ihya' pasti merasakan hal ini. Tetapi Ihya' itu sendiri, sebagaimana kitab manusia yang lain, mengandung banyak kekurangan sehingga sebagian peneliti banyak yang menolak sebagian isinya. Disamping itu, pembahasannya terbagi atas beberapa bagian, sebagian lebih dekat kepada fiqih, sebagian lagi lebih dekat kepada nasihat, analisa, ilmu syariat, ilmu logika, atau tazkiyatunnafs yang kita inginkan.


Sumber: Mensucikan Jiwa

Kamis, September 20

Syekh Siti Jenar; Makrifat dan Makna Kehidupan

Judul : Syekh Siti Jenar; Makrifat dan makna kehidupan
Volume 2 dari Syekh Siti Jenar, Achmad Chodjim
Penulis : Achmad Chodjim
Penerbit : Penerbit Serambi, 2007
ISBN  : 9791275645, 9789791275644
Tebal : 331 halaman
 
Ia juga akrab dipanggil Syekh Lemang Abang. Ketinggian Ilmunya mengundang curiga. Wali-wali sepuh yang mengajarnya menyangka dia punya ilmu sihir. Padahal, yang muncul tiba-tiba dan disaksikan oleh santri-santri Giri adalah keramahannya. Tetapi, yang membuat Syekh Siti Jenar mencuat bukan semata-mata ketinggian ilmunya, melainkan praktik hidupnya yang egaliter, merasa sama dengan orang lain.
Keteladanannya dalam beragama mudah diikuti orang lain. Tak heran bila setiap hari mesjid di Pesantren Lemah Abang dipenuhi orang.
Melanjutkan buku sebelumnya – Syekh Siti Jenar: Makna Kematian – buku ini bukanlah sejarah hidup Syekh Siti Jenar, melainkan ulasan ajarannya. Jika buku pertama lebih mengulas eksistensi manusia, buku ini mengupas tauhid, akhlak, dan makrifat Syekh Siti Jenar.
Tauhid yang menjadi landasan pokok dalam beragama ia ajarka hingga tuntas. Sifat 20 tidak diajarkan sebagai sifat Tuhan semata, tapi juga sifat yang disandang oleh hamba-Nya yang Mukmin. Justru di sinilah ajaran Siti Jenar lebih menarik daripada ajaran yang disampaikan oleh para wali lainnya.
Rukun Islam dijabarkan sebagai basis perilaku dalam hidup sehari-hari. Muslim sejati tak sekedar mengucapkan syahadat, mengerjakan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, dan berhaji secara formal. Kalau hanya itu, muslim sulit melepas mentalitas pembangunan yang buruk, mental korupsi dan kolusi. Warisan lama inilah yang hendak diberantas oleh Syekh Siti Jenar.
Bagi Syekh, iman bukanlah semata-mata kepercayaan. Iman harus dapat ditransformasikan dalam kehidupan. Iman bukanlah bekal untuk menghadapi kematian sebagaimana kita membawa bekal dalam perjalanan yang jika kita lapar lalu kita makan. Di tangan Syekh, rukun iman melahirkan ‘kemanunggalan iman, sebagai wujud ‘manunggaling kawula klawan Gusti’ dalam kehidupan nyata di bumi. Rukun Islam dan Iman tidak hanya dipraktikan berdasarkan olah budi dan cipta. Bila tidak berada di atas kehendak Tuhan, keinginan akan mengotori Jiwa (nafs). Hanya bila budi dan cipta telah dipimpin Tuhan, kita akan terlepas dari ketersesatan.
Syekh juga mengupas lugas makna sifat Rasul bagi kehidupan kita, rahasia Sasahidan, dan pandangan revolusioner tentang Hari Akhir.
 
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga

 

Judul: Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga
Penulis: Achmad Chodjim
ISBN : 9791600759
Rilis : 2006
Halaman : 310p
Penerbit : Serambi


Sunan Kalijaga, alias Raden Syahid. Dia seorang putra tumenggung. Tetapi dia tidak mau mewarisi kekuasaan dari ayahandanya. Justru dia memilih menjadi pegiat spiritual Islam di Tanah Jawa, yang pada akhirnya oleh Dewan Wali Sanga, dia diangkat sebagai salah satu anggotanya untuk menggantikan Syekh Subakir yang kembali ke Persia. Namanya akrab di telinga Islam Jawa. Dan, nyatanya dialah satu-satunya Wali yang bisa diterima oleh berbagai pihak, baik oleh mutihan atau abangan, santri atau awam.

Banyak buku mengungkapkan kisah Sunan Kalijaga. Sebatas kisah hidupnya belaka. Buku yang ada di hadapan Anda ini tidak bertutur kata tentang kisah Sunan Kalijaga. Meski kisahnya banyak diketahui orang, tapi tak banyak orang yang tahu tentang ajaran yang dibawanya. Nah, yang dikemukakan dalam tulisan ini adalah kupasan tentang ajaran dan kearifannya. Anda akan tahu bahwa banyak praktik-praktik agama Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, berasal dari Sunan Kalijaga.

Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga : Ada sebuah doa bahasa Jawa yang masih diamalkan oleh orang-orang Islam di Nusantara. Khasiat doa ini untuk menolak bala. Menyingkirkan penyakit. Mengusir hama dan penyakit tanaman. Membebaskan diri dari jeratan hutang. Bahkan untuk melindungi diri dalam pertempuran. Itulah doa "Rumeksa ing Wengi". Sebuah doa yang disusun oleh Sunan Kalijaga. Sunan pun melakukan dakwah dengan pendekatan budaya. Mungkin Anda pernah mendengar Gerebeg Mulud dan Sekaten. Itulah cara-cara Sunan Kalijaga untuk mengajak orang lain masuk agama Islam.

Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga : Dalam Islam "wasilah" merupakan cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Cara yang ditempuh seseorang untuk sampai kepada-Nya. Namun, bentuk wasilah itu diperdebatkan kebenarannya oleh para ulama. Sunan tak hendak berdebat masalah teologi. Tapi dia memberikan contoh wasilah ala Jawa. Yang jika dipelajari ternyata menyentuh hakikat keislaman. Sekaligus menanamkan rasa cinta terhadap para nabi, sahabat dan keluarga Rasul. Sunah Rasul pun tidak sesempit sebagaimana yang kita kenal selama ini. Bahkan diwujudkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari secara nyata, misalnya penggunaan baju takwa.

Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga : Diri manusia juga dikupas dengan sisi pandang yang berbeda. Mungkin Anda pernah dengar "Sedulur papat kalima pancer", saudara empat yang pusatnya adalah Diri manusia. Itulah ajaran makrifat Islam. Di situ keimanan dalam Islam bukan semata-mata dipandang sebagai kepercayaan, tapi oleh Sunan diamalkan untuk membangkitkan Sang Pribadi. Agar dapat kembali dengan sempurna ke Hadirat-Nya.

Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga : Syariat, tarekat, dan hakikat dirajut menjadi satu. Dirajut menjadi makrifat dalam bentuk mistik Jawa. Sehingga agama tidak sekadar menjadi formalitas kehidupan. Tapi menjadi bagian kehidupan itu sendiri. Mistik dan makrifat yang umumnya dipandang sebagai klenik [dalam pengertian negatif], oleh Sunan diolah menjadi ajaran yang bermakna bagi kehidupan. Selamatan pun tak ketinggalan. Jika selama ini selamatan hanyalah tradisi yang tidak diketahui maksudnya, maka dalam buku ini makna dari selamatan sehari hingga seribu hari itu disajikan dengan bahasa yang sederhana. Karena hakikat kebenaran itu satu. Maka, dengan satu ikatan yang benar, yang juga disebut tauhid, itulah seseorang menghadap ke Hadirat Tuhannya.

Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga : Yang terakhir mengenai reinkarnasi atau dilahirkan kembali. Banyak yang salah paham tentang ajaran ini. Dikiranya ajaran menitis atau dilahirkan kembali itu pengaruh dari ajaran Hindu atau Buddha. Itulah hikmah Islam yang diambil oleh Sunan. Hikmah yang ditemukan di Jawa. Sebagaimana pesan Rasul, hikmah adalah barang orang mukmin yang hilang, maka ambillah di manapun hikmah itu ditemukan! Memang benar, ajaran reinkarnasi itu ada di Hindu dan Buddha. Tapi, sebelum kedua agama itu masuk Jawa, hikmah tentang reinkarnasi itu sudah ada di ajaran Jawa. Oleh Sunan Kalijaga ajaran reinkarnasi ini dipadukan dengan konsep kebangkitan dari Islam.
 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons