"Hari ini aku bermimpi.Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku.Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini, aku merasa mimpiku semakin dekat.Belum pernah sedekat ini.Hari ini aku juga bermimpi.Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng.Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu.Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi."
Waktu pun berlalu, persahabatan mereka semakin erat, dan dalam hati mereka masing-masing tumbuh perasaan yang berbeda. Akan tetapi saat itu Kugy sedang menjalin hubungan dengan pacarnya, Ojos. Status Keenan yang masih single membuat Noni dan Eko berencana menjodohkan lelaki itu dengan seorang perempuan bernama Wanda. Tidak perlu diragukan, Wanda adalah perempuan yang sangat cantik; dan ia sangat mengerti seni lukisan. Meskipun hati Kugy terluka mengetahui keakraban antara Keenan dan Wanda, ia sama sekali tidak berhak untuk mengatakan apapun - dan yang bisa ia lakukan hanya menghindar. Persahabatan antara Kugy dan Keenan pun perlahan mengendur; masing-masing menjalani kehidupan mereka sendiri. Perasaan yang sempat tumbuh seolah tidak mungkin diraih kembali - sama seperti mimpi-mimpi mereka.
"Ia tahu betapa mahal pengorbanan yang diberikan anaknya. Keenan lagi-lagi terpaksa membunuh semua mimpinya, cita-citanya. Menanggalkan kuas, kanvas, dan cintanya."
"Kugy pun nyaris berhenti menulis. Tak peduli lagi dengan ambisinya menjadi penulis dongeng. Daya khayalnya tergantikan oleh rangkaian pikiran logis yang bekerja mekanis bagai robot untuk belajar, belajar, dan hanya belajar."Banyak hal berubah seiring dengan waktu. Kugy yang lulus lebih awal langsung memutuskan untuk mencari pekerjaan - dan ia mendapatkan pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan advertising. Kugy pun jadi mengenal atasannya yang bernama Remi, seorang lelaki yang dipuja oleh banyak perempuan. Sedangkan Keenan yang menetap di Bali terus-menerus berkarya; ia pun dipertemukan dengan seorang perempuan Bali bernama Luhde. Kugy dan Keenan masing-masing telah menemukan cinta di hadapan mereka; akan tetapi cinta yang mereka pernah rasakan dulu seolah tidak dapat dihapus dengan mudah.
Kini di antara Kugy dan Keenan terhampar berbagai macam rintangan yang membuat segalanya terasa mustahil. Mungkin dongeng dan lukisan tidak ditakdirkan untuk bersama. Dan tanpa bisa mengungkapkan perasaannya pada siapa pun, Kugy terus menuliskan surat untuk Dewa Neptunus lewat perahu kertas. Berharap sang Neptunus akan mendengar jeritan hatinya yang tidak pernah terucap.
"Satu-satunya kegiatan menulis yang tersisa hanyalah perahu-perahu kertas yang diapungkannya di kali. Kugy bahkan merasa surat-surat itulah yang membuat dirinya mampu bertahan waras dan kuat. Cerita hatinya pada Neptunus yang entah ada entah tidak. Tak jadi masalah. Setiap kali melihat perahu kertasnya bergerak terbawa arus kali, Kugy kembali bisa bernapas lega."
Hal kedua yang membuatku menyukai buku ini adalah karakter-karakternya. Sayangnya, yang menjadi favoritku bukanlah dua karakter utamanya: Kugy dan Keenan. Pilihan karakter favoritku jatuh pada: ♥ Remigius Aditya ♥. Meskipun ia baru muncul di pertengahan cerita, karakternya benar-benar berhasil membuatku jatuh cinta. Dibandingkan dengan karakter Kugy dan Keenan yang sepertinya sedikit 'galau' (in my opinion. tidak akan diperjelas supaya tidak spoiler), aku merasa karakter Remi ini lebih mantap, berprinsip, tegas, sekaligus menyenangkan. Apalagi ungkapan-ungkapan cintanya kepada Kugy menurutku benar-benar terasa tulus dan benar-benar bikin meleleh. No wonder kalau Remi dianggap sebagai the most eligible bachelor.
"Remi lalu membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya pada wajah Kugy. "Ke mana pun itu, dari mulai warung nasi goreng sampai Pantai Sanur... kapan pun itu, dari mulai hari ini sampai nggak tahu kapan, selama bisa bareng sama kamu, saya mau.""
"Kamu memang nggak perlu bilang apa-apa. Sebagai atasan, saya sedih karena kehilangan salah satu anak buah terbaik. Tapi sebagai orang yang mencintai kamu, saya bahagia karena kamu berhasil memilih yang terbaik untuk hidup kamu."Mengetahui buku ini telah diadaptasi menjadi sebuah film membuatku mengalami semacam dilema. Setelah merasa puas dengan versi buku Perahu Kertas, aku takut jika film adaptasinya akan merusak imajinasi yang ada dalam kepalaku. Karena itulah, sampai saat ini aku belum memutuskan untuk menonton film adaptasinya atau tidak.
Overall, buku ini memuaskan bagiku; definitely a page-turner, dan segala sesuatunya mengalir dengan baik. Di bagian terakhir buku ini, Dee menceritakan inspirasi apa saja yang membuatnya mulai menuliskan cerita Kugy & Keenan ini, dan apa yang ia harap bisa tuliskan. Menurutku, Dee telah berhasil melakukan semua yang ia harapkan dengan sangat baik sekali. Ia berharap bisa menuliskan sebuah cerita yang bersamanya pembaca bisa ikut tumbuh bersama dengan tokoh-tokohnya, menyaksikan mereka bertransformasi dari remaja ingusan menjadi manusia-manusia dewasa; dan itulah yang aku dapat dari buku ini. Setelah membaca Perahu Kertas, aku tidak ragu untuk melahap karya-karya Dee yang lainnya :)



11.53
iroel







