Tampilkan postingan dengan label Sastra - Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra - Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Maret 9

Untold History of Pangeran Diponegoro (Sebuah Novel)


Pangeran Diponegoro<br />

Judul : Untold History of Pangeran Diponegoro
Penulis : ---
Penerbit : Era Muslim
Tahun : ..
Bentuk : ebook

CATATAN PENULIS
Tahun 1647, Amangkurat I memancung kepala 6.000 ulama Jawa beserta keluarganya di alun-alun Kraton Plered, Yogyakarta. Syiar Islam di Tanah Jawa, paska era Wali Songo, pun mandeg. VOC, sekutu utama Raja Mataram itu, bergembira.
Lebih satu abad kemudian, Diponegoro mengobarkan jihad fi sabilillah untuk mengusir kaum kafir Belanda dan menegakkan panji syahadat di Tanah Jawa, dalam bentuk sebuah negara merdeka berasaskan Islam. Jihad fi sabilillah ini oleh sejarawan Belanda direduksi hanya sebagai perang sakit hati, yang hanya disebabkan perebutan tahta dan persoalan tanah makam leluhur.
Sejarah selalu berulang. Dan hari ini, episode Amangkurat I, Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasyah, Kiai Modjo, dan Patih Danuredjo pun kembali terjadi. Dalam bentuk yang lebih canggih, tapi lakonnya tetaplah sama. Persis sama…

Dengan penuh hormat dan kebanggaan,
kupersembahkan kepada anak keturunan
dan keluarga besar Pangeran Diponegoro,
semoga kemuliaan perjuangan Beliau

menginspirasi hidup kita semua…

Jumat, November 16

The Last Empress


Judul : The Last Empress
Penulis: Anchee Min
Penerbit :
Tahun :
Versi : pdf

Review 

Novel ini merupakan sekuel dari novel Empress Orchid.

Cina di abad ke-20 diguncang oleh serangan tentara asing yg memalukan dan pemberontakan dlm negeri. Satu-satuharapan ada pada pundak seorang perempuan yg berkuasa, Tzu Hsi yg berwibawa dan bijaksana. Dia juga dikenal sebagai Empress Orchid—Maharani Anggrek.

Orchid bermetamorfosis secara dramatis dari seorang selir menjadi Maharani yg disorot lampu panggung dunia, dari perempuan muda keras hati menjadi pemimpin politik yg arif. Dia kini bukan haharus menghadapi serangkaian kehilangan yg menyakitkan, tetapi juga kekaisaran yg mulai runtuh. Hadia yg mampu menyatukan kelompok-kelompok yg semakin gencar berseteru. Inilah kisah luar biasa salah seorang tokoh paling berpengaruh di Cina, yg memperoleh kekuasaandgn enggan tetapi harus mengorbankan segalademi mempertahankan semua yg dia cintai dan kekaisarannya.

"Pengagum Empress Orchid akan tertarik pada sekuel ini. Yang lain akan menganggap perkenalan terhadap kebudayaan Cina yg relatif modern ini sebuah pencerahan. " Rocky Mountain News

Untuk novel pertama, Empress Orchid, bisa dilihat disini


Empress Orchid


Judul : Empress Orchid; Drama Cinta dan Kekuasaan Selir Muda Kaisar Hsien Feng

Penulis : Anchee Min
Penerjemah :
Penerbit : Hikmah
Tahun :
Versi : Digibook

Review


Pada sebuah senja di Kota Terlarang, terukir kisah seorang selir muda yang di kemudian hari menjadi kaisar wanita terakhir di China dan tercatat dalam sejarah sebagai perempuan yang paling lama berkuasa di sana. Inilah epik menawan tentang Tzu Hsi yang cantik, dipanggil Anggrek, seorang gadis desa yang mencari kekuasaan lewat rayuan, pembunuhan, dan intrik-intrik politik.

Ketika China terancam oleh musuh dari luar, tampaknya hanya dia yang mampu menyatukan negeri tersebut. Seorang perempuan yang berhasil bertahan dan akhirnya mendominasi... dunia laki-laki. 


Minggu, Oktober 28

Darma Mangir


Judul : Darma Mangir
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit :
Tahun terbit :

Review
Ketika Majapahit runtuh (1527), Jawa menjadi lahan tak bertuan dan tidak mengenal satu kekuasaan tunggal. Pada saat yang sama juga, Wali Sanga mulai menyebarkan Islam melalui pantai utara dan Portugis datang ke Sunda Kelapa. Kekuasaan itu berpusat praktis tersebar di seluruh Jawa, menyebabkan keadaan kacau-balau. Perang terus merebut kekuasaan tunggal untuk membuat Jawa bermandikan darah. Jadi yang muncul di Jawa adalah daerah kecil (desa) dalam bentuk perdikan (desa yang tidak memiliki kewajiban untuk membayar pajak kepada otoritas pemerintah) dan menjalankan sistem demokrasi desa, dengan penguasa yang memegang Ki Ageng. Apakah Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram dan pada tahun 1577 mendirikan Kota Gede. Kemudian Panembahan Senapati, putra Ki Ageng Pamanahan naik menjadi Raja Mataram.

Pada saat yang sama ada juga mangir tanah garapan lokal dengan para pemimpin yang disebut Ki Ageng Mangir Wanabaya. Seperti daerah lain di Jawa, pertempuran perebutan kekuasaan tidak bisa dihindari, atau antara Mangir dan Mataram. Hal ini sangat dimungkinkan karena lokasi perdikan Mangir dan Mataram sangat dekat bersama-sama, sekitar  ± 30 km. Jadi persaingan antara dua kekuatan menjadi tak terelakkan, terutama dengan bisnis memenuhi janji Joko Tingkir (Sultan Hadi Wijaya) kepada Ki Ageng Pamanahan untuk kendali penuh Mataram.

Pada akhirnya Ki Ageng Mangir Mangir hilang setelah kematian di tangan Panembahan Senapati ketika dihadapkan dengan Sekar Pembayun dalam sebuah pernikahan yang dibuat oleh rekayasa untuk menghancurkan kekuasaan Mangir dan Mataram daerah lain yang juga membantu mangir, dan di tahun 1581 berhasil Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram (dan seterusnya).


Arus Balik

Judul : Arus Balik
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun Terbit: 2002
Format : pdf

Review:
Sebagai penulis yang pada tempat pertamanya adalah novelis, Pram sengaja memilih menuangkannya hasil penelitiannya dalam bentuk novel daripada suatu karya ilmiah. Bukan tidak  ada maksud kawan, tapi hal inilah yang justru merupakan keistimewaan dari seorang Pramoedya Ananta Toer dibanding novelis-novelis lain. Pram ingin mempresentasikan pesan yang dikandung sejarah bagi semua segmen masyarakat, mulai dari pembaca paling awam sampai pada lingkungan yang paling terpelajar. Lingkaran pembaca seluas-luasnya itulah yag ingin dia jangkau, bukan hanya sejumput intelektual dari lingkaran masyarakat ilmiah, melainkan semua lapisan masyarakat diharapkan dapat mencerna dan memahaminya.
Seperti halnya “Arus Balik” yang sebenarnya adalah suatu bagian dari proyek besar studi sejarah nusantara yang dilakukan Pram sebelum dia ditahan pada tahun 1965, dia tuangkan dalam sebuah novel sejarah dan bukan thesis sejarah. berisi tentang sebuah epos pasca kejayaan nusantara pada awal abad 16, pram ingin kita mencerna dan memahami kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh pendahulu bangsa ini, agar dapat dapat menjadi cerminan dan pelajaran bagi generasi berikutnya.
Dalam “Novel Sejarah”  ini Pramoedya ingin menyuguhkan sebuah pesan moral kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa nusantara kita pernah berjaya. Pramoedya bukannya menangisi kebesaran masa lalu, tidak pula merindukan kejayaan purbakala, tetapi dia bernostalgia dengan masa depan yang cerah. Baginya sejarah adalah cermin paling jernih, referensi terpercaya untuk sebuah perubahan guna membangun masa depan yang lebih baik. Disinilah kita bisa melihat letak kecintaan seorang Pramoedya pada rakyat dan tumpah darahnya.
Sedemikian banyak pelajaran-pelajaran dipersembahkan oleh sejarah dan diteruskan oleh Pramoedya kepada masyarakat luas lewat keunggulan penanya. Dia menulis betapa kekuatan dan kesatuan maritim nusantara pernah memecah ombak samudra damai ke utara, tetapi kemudian arus membalik. Arus raksasa menggelombang dari utara menghempas nusantara mundur ke selatan, kepedalaman yang bahkan lebih jauh lagi mundur sampai ke desa-desa di kaki pegunungan, sehingga yang tertinggal hanyalah negara kota kecil-kecil di pesisir utara Jawa.
Mundur dan terus mundur sampai ke pedalaman bukan hanya secara geografis semata, namun terus mundur pula ke pedalaman nurani dan kenalurian yang mengganti nalar rasional. Khayal dan kenyataan bersimpangan tanpa batas, akhirnya lahirlah mistik Jawa yang menjamur dan membudaya pada perilaku manusianya. Dengan demikian arus balik ini juga mengkisahkan tentang manusia nusantara, manusia jawa, kultur jawa, kisah tentang “the javaneese mind” dengan segala perwatakannya (Ratu Lautan Kidul, dan segala peri parahiyangan yang melingkupinya), kebesarannya, kearifannya, kemunafikannya, dan eufemismenya.
Sebuah interprestasi tantang sejarah nusantara yang sangat jitu dan relevan hingga saat ini. Wawasan kelautannya yang berwatak luas dan menembus kedangkalan dan kekerdilan; sebagaimana juga persatuan dan kesatuan Indonesia dilahirkan dari gelora kebaharian pada masa majapahit yang kemudian digantikan oleh kawasan-kawasan pedalaman agraris mengungkung wawasan berpikir , cenderung membentuk watak kerdil dan kemunafikan akibat tiadanya sentuhan gelombang lautan. Karena itulah sampai sekarang Indonesia tidak henti-hentinya dirundung masalah integrasi dan tersendat perkembangannya disebabkan sebagai kekuatan bahari sejak merdeka justru selalu diatur oleh kekuasaan angkatan darat dengan watak khasnya yang bukan saja tak kenal, malah meminggirkan wawasan kebaharian.
Sejak kecil kita telah banyak diceritakan epos-epos tentang Majapahit dengan segala kebesarannya. Dalam diktat-diktat sekolah disebutkan bahwa Majapahit runtuh pada abad 15 dikarenakan serangan dari kerajaan A dan kerajaan B dan seterusnya..!! akan tetapi tiada terkandung sebuah pesan moral ataupun sebuah keterkaitan pola fluktuatif kejayaan dari kerajaan-kerajaan yang menggantikan kekuasaannya dan lain sebagainya, yang paling tidak bisa dijadikan kajian analisis untuk menambah wawasan tentang problematika bangsa beserta solusinya. Seiring dengan hal itu, setelah membaca novel ini sebuah tamparan serasa menghampiri kita. Bahwa otak kita telah begitu bebal dengan segala kemunduran ini. Dan semoga tamparan Pramoedya dalam novel sejarah ini dapat membalik lagi arus kemunduran menjadi kemajuan seperti halnya watak kebaharian yang berwawasan luas dan rasional serta dapat mengikis habis segala permasalahan yang merundung Indonesia kita tercinta. (Iwan Soebakree)*
Selamat Membaca…!!
*Wakil Ketua Perpustakaan Gresik dan masih aktif sebagai pengajar di salah satu lembaga pendidikan swasta di Surabaya


Arok Dedes

Judul : Arok Dedes
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Terbit : Januari 2002
Bahasa : Indonesia
File Type : DJVU
 
Review : 
 
Arok Dedes adalah salah satu novel karya Pramoedya Ananta Toer yang menceritakan tentang sejarah perlawanan dan pemberontakan oleh Ken Arok terhadap pemerintahan akuwu Tumampel, Tunggul Ametung. Dalam buku yang diterbitkan pada tahun 1999 ini, Pram secara jelas mengungkap kondisi sosial politik pada masa itu.

Novel ini mencoba memberikan suatu perspektif pandang baru terhadap sejarah dengan menggambarkan Ken Arok bukan hanya seorang berandalan pemberontak ,seperti yang banyak dikatakan buku pelajaran sejarah, tetapi disini diceritakan bahwa Ken Arok adalah seorang pemimpin rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan yang menindas. Novel ini juga menggambarkan kondisi pemberontakan yang terjadi di dalam suatu negara atau kerajaan yang sarat dengan intrik politik.

Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Arok_Dedes


DYAH PITALOKA (Korban Ambisi Politik Gadjah Mada)


Judul : Dyah Pitaloka (Korban Ambisi Politik Gajah Mada
Pengarang : Hermawan Aksan
Penerbit : Bentang
Cetakan : 1, 2007
Tebal : viii, 326

Novel ini adalah fiksi yang realistis sekaligus realitas yang fiktif. Kita diajak untuk menerawang kisah yang sangat dramatis yang terjadi pada era kejayaan kerajaan Majapahit. Gadjah Mada tidak ingin Kerajaan Sunda menjadi kerikil dalam Kerajaan Majapahit. Untuk melengkapi keberhasilannya menyatukan Nusantara, Majapahit harus menaklukkan Sunda. Bila kekuatan angkatan perang tidak mungkin, cara lainnya adalah melalui pernikahan. Pernikahan Dyah Pitaloka dengan Raja Majapahit, bagi Gadjah Mada, bukanlah pernikahan antara seorang raja dengan putri dari dua kerajaan, melainkan penyerahan upeti sebagai tanda takluk Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada, melalui Sumpah Palapa, telah mengukuhkan simbol dirinya sebagai sosok patih yang ambisius. Ambisinya itu tidak hanya membumihanguskan Kerajaan Sunda, juga dirinya sendiri. Pahlawan terbesar sepanjang sejarah Majapahit itu, orang yang pertama kali menyatukan seluruh Nusantara, akhirnya menjadi buronan negerinya sendiri. Nama besarnya runtuh karena hanya mementingkan ambisi dan mengabaikan sesuatu yang tak kalah besar: Cinta. Berbahan baku sejarah, novel ini bercerita tentang nilai sebuah kesetiaan dan pengkhianatan.




Gajah Mada 4; Perang Bubat


Judul Buku: Gajah Mada Perang Bubat
Penulis: langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai
Tebal Buku: 441

Review

Salah satu serial buku karangan Langit Kresna Hariadi dari seorang Gajah Mada. Penulis baru didunia perindustrian buku yang ikut meramaikan dunia penulisan di Indonesia. Buku yang berjudul Perang Bubat dengan cover yang cukup dramatis bernuansakan warna merah darah dengan penggambaran perang yang telah usai dan banyak korban berjatuhan dimana-mana. Cukup membuat menarik para pembaca yang penasaran dengan latar belakang lahirnya Perang Bubat.

Salah satu buku yang cukup berat karena lahir berdasarkan sejarah yang ada, Langit Kresna patut untuk diacungi jempol dalam kepiwaian nya memadu padankan sejarah yang ada dengan imajinasi nya. Mampu membuat pembaca percaya bahwa cerita yang digambarkan pengarang memang benar-benar terjadi sampai ke setiap detailnya.

Cerita diawali ketika salah satu tokoh kiai, sesepuh didalam kerajaan, yang akan meninggal tapi mendapatkan kesulitan dalam melepas raga dikarenakan ilmu kebatinan yang dimilikinya. Disinilah awal mula pembaca disuguhi bahwa seorang Gajah Muda selain piawai dalam melebarkan sayapnya diseluruh nusantara dia pun memang mempunyai ilmu kebatinan dalam dirinya. Yaitu ilmu yang mampu membuat seseorang mempunyai umur yang panjang sampai berumur ratusan. Hingga akhirnya Gajah Mada lah yang bersedia menerima ilmu itu agar sang kiai mampu melewati gerbang kematian.
Cerita-cerita Gajah Mada dalam novel karangan Langit Kresna ini cukup kental akan nuansa ilmu kebatinannya yang justru membuat novel ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri, meski awalnya mungkin bagi para pembaca yang tidak bisa membayangkannya lambat laun akan ikut tersihir dengan segala macam "ilmu" baru dalam novel ini.

Ambisiusnya seorang Gajah Mada cukup kentara terlihat dalam edisi perang bubat ini. Ketika Gajah Mada mulai menyatakan keinginannya untuk menguasai tanah Sunda yang waktu itu diperintah oleh seorang Maharaja yang bernama Linggabuana dalam sebuah pemerintahan bernama Sunda Galuh.
Dalam buku ini digambarkan ternyata keinginan Sang Patih yang ingin menguasai Sunda Galuh tidak banyak disetujui oleh para tokoh penting didalam kerajaan itu sendiri, seperti para ibu suri dan beberapa pejabat penting lainnya. Sayangnya Maharaja Hayam Wuruk itu sendiri tidak digambarkan dengan baik, apa sebenarnya yang menjadi keinginannya dalam hal memandang keinginan Gajah Mada yang ingin menguasai Sunda Galuh. Seorang raja yang hanya digambarkan sebagai seorang pemuda tampan yang sudah menjelang masa kedewasaan dengan maksud mencari yang akan menjadi permaisuri nya kelak. Sosok Gajah Mada sangat kuat digambarkan disini karena memang pengarang menampilkan Gajah Mada yang hebat sebagai tokoh utama sehingga dalam edisi perang bubat ini seorang Hayam Wuruk hanya menjadi tokoh sampingan saja bagi seorang Gajah Mada.

Sebuah tonggak sejarah yang banyak orang menganggap bahwa Perang Bubat adalah awal mulanya muncul sentimen bagi orang jawa dan orang sunda. Sehingga banyak muncul kehati-hatian pengarang dalam menampilkan beberapa percakapan ataupun adegan yang terjadi dalam buku ini baik tentang ambisiusnya Gajah Mada yang kekeuh ingin Sunda Galuh dibawah bendera Majapahit meski terkadang ditampilkan percakapan-percakapan Gajah Mada cukup berani dalam pandangannya terhadap Sunda Galuh.

Meski begitu pengarang sudah cukup maksimal dalam usahanya mengharmoniskan Sunda dan Jawa dalam bukunya ini dan layak membuatnya menjadi satu-satunya penulis di Indonesia yang berani menampilkan sejarah dalam bentuk novel yang dikemas sangat menarik. Karena memang tidak sedikit orang yang berminat dalam sejarah, pengecualian bagi seorang Langit Kresna. Banyak penggambaran yang diperlihatkan oleh penulis kelebihan dan kekurangan masing-masing suku. Cukup membuat penulis berada dalam posisi nentral terlepas dia sendiri adalah orang Jawa. Lagipula memang pengarang menggandeng seseorang yang berasal dari Sunda untuk menetralkan cerita yang digarap oleh penulis.
Sampai akhirnya cerita disudahi dengan sebuah peperangan yang sangat bersejarah yang terjadi di Lapang Bubat di kerajaan Majapahit. Digambarkan dalam buku ini bahwa kesalah pahaman yang terjadi sebenarnya ulah dari bawahan Gajah Mada yang lebih ambisius dan culas dalam keinginannya membuat Sunda Galuh bertekuk lutut.

Cerita klimaksnya adalah ketika akhirnya rombongan dari Sunda Galuh membawa calon pengantin yaitu sang putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang akhirnya membuat luluh hati sang raja Hayam Wuruk, terhambat di lapangan Bubat. Karena penyambutan tidak diadakan bagi pihak sunda galuh sehingga pihak Majapahit yang menyangka bahwa kedatangan sunda galuh memang akan telat dimanfaatkan oleh pihak ketiga yang memang menginginkan pernikahan antara Dyah Pitaloka dan Hayam Wuruk tidak akan pernah terjadi.

Gajah Mada menganggap bahwa penyerahan Dyah Pitaloka dianggap sebuah upeti dari Sunda Galuh bagi majapahit yang mengakui dibawah satu bendera tapi tidak bagi pihak Sunda Galuh itu sendiri. Pun Hayam Wuruk yang memang menganggap bahwa pinangannya murni karena memang ingin menikahi Dyah Pitaloka tanpa menganggap ada sesuatu dibalik itu semua.

Sampai akhirnya peperangan tidak dapat dielakkan lagi ketika pihak-pihak ketiga yang semakin mengeruhkan suasana dan kehormatan para Sunda Galuh yang tinggi meletus lah Perang Bubat. Jelas tergambar segala suasananya dalam peperangan ini juga tindakan heroik Dyah Pitaloka dengan membunuh dirinya sendiri ketika mengetahui kedua orang tuanya sudah meninggal.

Cerita diakhiri dengan suasana kerajaan yang mendengar berita habisnya pasukan Sunda Galuh diperangi oleh pasukan Majapahit membuat suasana kerajaan menjadi berkabung bukannya bersuka ria menerima kemenangan dipihak Majapahit. Sampai Gajah Mada akhirnya harus menerima tanggung jawabnya dengan meletak jabatan dan diasingkan di Madakaripura. Sebuah rapor merah bagi seorang Gajah Mada diantara prestasinya melebarkan sayap Majapahit diseluruh nusantara yaitu keberhasilannya memenangi peperangan melawan pasukan Sunda Galuh ditanahnya sendiri di lapangan Bubat.


Download Perang Bubat  (tidak full)

Gajah Mada 3: Hamukti Palapa

 
Judul : Gajah Mada #3: Hamukti Palapa (Soft Cover)
Penulis :  Langit Kresna Hariadi
Penerbit :  Tiga Serangkai
Tahun terbit : 2006
No. ISBN : 9793303166
Jumlah Halaman : 694
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi(L x P) : 140x210mm

SINOPSIS BUKU

“Untuk Mewujudkan keinginanku atas Majapahit yang besar.” ucap Gajah Mada dengan suara amat lantang. “Untuk mewujudkan mimpi kita semua, aku bersumpah akan menjauhi hamukti wiwaha sebelum cita-citaku dan cita-cita kita bersama itu terwujud. Aku tidak akan bersenang-senang dahulu. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung semata-mata demi kebesaran Majapahit. Aku bersumpah untuk tidak beristirahat. Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjugpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasek, samana ingsun amukti palapa.” Senyap pendapa Bale Manguntur mendengar sumpah yang disaksikan matahari yang panas menggila. Semua orang masih terpesona pada jejak sumpah mengerikan yang diucapkan Gajah Mada. Sumpah itu memang layak disebut mengerikan. Entah dengan cara bagaimana Gajah Mada bisa menanggungnya. Sumpah itu terlampau mengerikan bagi sahabat Gajah Mada karena betapa keras kerja yang harus dilakukan untuk mewujudkannya. *** “Novel sejarah ini disajikan dengan sangat menarik, tidak hanya terpaku pada biografi Gajah Mada tetapi secara komprehensif juga menggambarkan situasi yang berkembang pada zaman Majapahit.” – A. Adaby Darban. Ketua Jurusan Ilmu Sejarah UGM
Resensi:
Keta, Sadeng, dan Sumpah “Hamukti Lara Lapa”
oleh: Bahtiar HS
Kemarau panjang. Gunung Kampud meletus. Kekeringan melanda setiap jengkal tanah Majapahit.
Pada situasi seperti itulah, ruang perbendaharaan pusaka Majapahit dimasuki orang. Payung Udan Riwis dan Cihna Nagara Gringsing Lobheng Lewih Laka raib dari ruang perbendaharaan istana pada pencurian pertama! Bahkan pada pencurian yang kedua dengan orang yang agaknya berbeda – yang ternyata pencuri kedua ini merasa terkecoh karena Kiai Udan Riwis dan Cihna Nagara sudah tak berada di tempatnya — Ratu Gayatri sempat diculik dari ruang peristirahatannya! Istana Majapahit pun geger. Mengapa justru kedua pusaka itu yang dicuri orang – sebuah payung dan sebuah bendera — dan bukan pusaka lain yang lebih tak ternilai harganya? Untuk apa? Dan bagaimana mungkin Ratu Gayatri selamat tanpa kurang suatu apa dalam penculikan itu?
Telik sandi Bhayangkara pun disebar Gajah Mada. Tak kurang, Gajah Enggon, pentolan pasukan khusus itu pun harus turun tangan sendiri. Sesuai petunjuk Ratu Gayatri, salah seorang yang pernah membatik bendera Cihna Nagara (lambang negara) itu, Gajah Enggon harus memulainya dari Ujung Galuh. Di sana, kehidupannya bahkan akan dimulai dari awal. Dia hanya tak boleh menoleh ke belakang dan diminta mengikuti ke mana terjadi mendung dan hujan akan turun. Sebuah petunjuk yang tentu saja penuh teka-teki.
Bersama dengan Pradabasu, seorang mantan Bhayangkara yang masih banyak membantu Majapahit meski sudah menjadi orang luar, Gajah Enggon melakukan perjalanan ke Ujung Galuh. Dan ternyata, di sanalah “kehidupannya akan dimulai dari awal” memang terjadi.
Gajah Enggon bertemu dengan Kiai Agal yang misterius, yang ternyata mengenal dirinya, dan tanpa disangkanya, sudah memiliki rencana yang tak pernah disangkanya: orang misterius itu hendak menikahkan dirinya dengan Rahyi Suhenok, cucunya sendiri! Dan disanalah keduanya baru tahu, bahwa Kiai Agal tidak lain adalah Kiai Pawagal, orang dekat Raden Wijaya. Keduanya juga bertemu dengan Medang Dangdi, teman seperjuangan Kiai Pawagal yang bersama dengan Raden Wijaya membangun Majapahit. Namun, tidak seperti Nambi dan teman-temannya yang lain, keduanya memilih berada di luar pemerintahan.
Berkat informasi dari Medang Dangdilah, di Ujung Galuh itu Pradabasu berbagi tugas dengan Gajah Enggon. Gajah Enggon tetap memburu kedua pusaka yang hilang sebagaimana amanat Ratu Gayatri, sedangkan Pradabasu harus segera bergerak ke Keta dan Sadeng: dua buah wilayah yang disinyalir sedang memberontak terhadap Majapahit. Dan dari sinilah, teka-teki mengapa kedua pusaka Majapahit itu hilang mulai terkuak. Semuanya ada kaitannya dengan upaya Keta dan Sadeng mencari legitimasi kekuasaan melalui penggunaan kedua pusaka itu sebagai simbol. Dan itu harus dicegah.
Berkat upaya Pradabasu dan telik sandi Bhayangkara lainnya, pemberontakan kedua tempat itu mulai konangan. Bagaimana Patih Mogasidi dari Keta dan Patih Raganata dari Sadeng harus menelan pil pahit ketika diusir dari pasewakan Majapahit karena gerakan rahasia mereka untuk menyusun kekuatan menentang Majapahit berhasil diblejeti Gajahmada. Pasukan segelar-sepapan pun ditugaskan ngluruk ke kedua wilayah itu. Tak kurang upaya itu dibantu oleh armada laut Adityawarman dari Darmasraya yang sedang berkunjung ke Majapahit. Semua berkat informasi dari Pradabasu.
Di perjalanan lain, Gajah Enggon bersama istrinya, Rahyi Suhenok, mengejar orang yang mencuri kedua pusaka itu. Dan ternyata mereka tidak sendiri. Ada pihak lain yang juga menginginkan kedua pusaka itu. Pihak lain itu tak lain adalah mereka yang gagal mencuri kedua pusaka di Majapahit. Dan pihak itu memang terbukti ada hubungannya dengan Keta dan Sadeng.
Begitulah cerita itu bergulir. Keta dan Sadeng akhirnya berhasil ditaklukkan. Dan kedua pusaka akhirnya kembali ke Majapahit. Dengan sendirinya! Bagaimana bisa? Dan bagaimana bisa Ratu Gayatri sendirilah yang menyambut Sang Pencuri kedua pusaka itu di alun-alun Majapahit ketika hujan deras mengguyur dan membasahi bumi yang telah kerontang begitu lama?
Jawabnya bisa ditemukan pada bagian akhir novel setebal lebih dari 600 halaman ini.
Dan pada kesempatan inilah, Patih Arya Tadah mengundurkan diri dan digantikan dengan Gajahmada sebagai Patih Mangkubumi. Pengangkatan dirinya tentu membuat banyak pejabat yang lebih senior kecewa, apalagi ia menyampaikan sumpah palapanya yang terkenal itu. Sumpah yang tentu saja di telinga mereka seperti sebuah lelucon belaka.
“Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa.”
***
Inilah novel paling tebal dari keempat buku Gajahmada yang telah diterbitkan hingga resensi ini dibuat. Lebih dari 600 halaman! Jika sehari bisa menulis 10 halaman, novel ketiga ini ditulis Langit Kresna Hariadi barangkali hanya dalam kurun waktu 60-an hari; alias dua bulanan saja!
Namun, sebagaimana serial sebelumnya, novel setebal itu bisa dikunyah selezat kedua seri sebelumnya. Bagaimanapun, Pak Langit tetap membumbui kisah Gajahmada kali ini dengan misteri; yakni tentang pencurian pusaka yang sebetulnya tak seberapa penting dan kaitannya dengan pergerakan pasukan secara sembunyi-sembunyi di Keta dan Sadeng. Dengan sisi misterius inilah pembaca dipaksa dibuat tetap erat memegang novel ini hingga sampai pada kata terakhir.
Mungkin belajar dari kedua seri sebelumnya, pada sekuel ketiga ini tak banyak lagi dijumpai kalimat-kalimat perulangan yang cukup mengganggu itu. Meski demikian, tebalnya yang lumayan cukup membuat keinginan untuk membacanya menjadi sedikit menurun. Tetapi kiranya bisa dipahami mengapa setebal itu, karena setidaknya ada 3 pertanyaan besar yang harus dijawab. Pertama, adanya pergerakan pasukan berkekuatan sepuluh kapal dari Darmasraya yang dipimpin Adityawarman yang telah tiba di Ujung Galuh. Bagaimanapun, putra Darmasraya ini termasuk laki-laki yang masih ada hubungan darah dengan raja Majapahit dan berhak atas dampar kencana itu. Apalagi sejak Prabu Jayanegara wafat dan kedua saudaranya, Sri Gitarja dan Dyah Wiyat, adalah perempuan semua. Kedua, hilangnya kedua pusaka – yang tak seberapa. Untuk apa keduanya dicuri. Dan ketiga, adanya gerakan di Keta dan Sadeng yang hendak melakukan makar terhadap Majapahit.
Dan inilah kelihaian Pak Langit mempertemukan ketiga isu tersebut dalam sebuah cerita yang terjalin apik. Di samping adanya isu tambahan akan mundurnya Arya Tadah dari kursi kepatihan. Yang memang agak mengherankan adalah bahwa isu yang – menurut saya – tambahan atau sampingan inilah yang justru dipilih Pak Langit menjadi judul novel ini. Gajahmada Hamukti Palapa; yakni peristiwa sumpah amukti palapa Gajahmada yang terkenal itu. Judul yang lebih tepat, barangkali, malah Pemberontakan Keta dan Sadeng, karena isu inilah yang justru mengambil porsi terbanyak dari cerita ini.
Terus-terang saya tak pernah mendengar kisah raibnya pusaka Majapahit itu dalam sejarah. Adalah sungguh merupakan kejutan jika ternyata hal itu pernah terjadi dan juga kejutan pula jika tak pernah terjadi kecuali hanya khayalan penulis saja. Karena bagaimanapun mengaitkan isu itu dengan Pemberontakan Keta dan Sadeng, yang memang ada tertulis di dalam sejarah, adalah sebuah ide yang jitu.
Saya pun tak pernah mendengar Adityawarman membantu Gajahmada menyerang Sadeng dengan pasukan armada lautnya. Apalagi Sadeng terletak di sisi selatan Jawa Timur bagian timur (selatan Jember), yang tentu saja untuk mencapainya harus mengarungi Selat Bali dan menuju Samudera Hindia yang terkenal ganas ombaknya. Saya masih memiliki kesan bahwa kedatangan Adityawarman dan kerjasamanya menyerang Sadeng adalah skenario penulisnya saja. Mudah-mudahan saya salah.
Yang juga tak kalah mengambil banyak halaman adalah penceritaan set back bagaimana pertemuan nostalgia antara Gayatri dan Kiai Wirota Wiragati di masa lampau ketika terjadi pemberontakan Jayakatwang, Adipati Gelang-gelang, terhadap Raja Kertanegara. Cerita romantis yang juga “baru” saya dengar. Jika ini tak pernah terjadi, maka saya sedikit yakin Sang Penulisnya adalah orang yang cukup romantis. Mungkin suatu saat saya harus bertanya pada istrinya untuk lebih yakin lagi tentang hal ini.
Disamping hal-hal di atas, ada beberapa pertanyaan yang muncul setelah membaca novel tebal ini. Pertama, kelihatannya peran Gajah Enggon tak seberapa di dalam cerita ini. Ia hanya “mengejar” maling Kiai Udan Riwis dan tak berhasil menangkapnya. Karena ternyata, Branjang Ratus, Sang Maling, adalah suruhan Ratu Gayatri sendiri. Kedua pusaka itu akhirnya kembali ke Majapahit, dikembalikan oleh pencurinya sendiri. Lalu, untuk apa Gayatri menyuruh Gajah Enggon menelusuri raibnya kedua pusaka itu? Untuk sekedar menikahkan pimpinan Bhayangkara itu dengan cucu Kiai Pawagal?
Kedua, betapa mudahnya Keta dan Sadeng ditaklukkan. Seingat saya di dalam sejarah, keduanya itu benar-benar berupa sebuah “pemberontakan” sebagaimana pemberontakan Ranggalawe misalnya. Tetapi dalam cerita ini, Ma Panji Keta dan Adipati Sadeng dengan mudahnya diringkus. Kesaktian Gajah Mada sama sekali tak dikeluarkan dalam sekuel ini.
Ketiga, betapa mudahnya juga Kiai Wirota Wiragati, maling mumpuni jaman Singasari dan juga sahabat Raden Wijaya, yang semula membantu mati-matian Ma Panji Keta memberontak terhadap Majapahit menjadi luruh niatnya oleh bujukan Medang Dangdi dan Kiai Pawagal, kedua orang sahabatnya itu? Bagaimana mungkin begitu mudahnya ia dipengaruhi? Saya kira ini juga agak tak wajar, karena lantas terkesan ceritanya, “Ealah, mek ngono ae.” Ah, ternyata cuman begitu saja.
Namun, ada yang menarik pada sisipan peristiwa Sumpah Amukti Palapa Gajah Mada itu. Sebagaimana pernah disampaikan penulis pada saat Bookfair akhir tahun 2006 lalu di Senayan Jakarta, pada cerita itu disisipkan tafsiran penulis terhadap “hamukti palapa” sebagai sumpah untuk tidak beristirahat hingga tercapainya cita-cita Gajah Mada. “Palapa” diartikan sebagai “lara lapa” (jawa), yakni berani menderita untuk mencapai sebuah cita-cita mempersatukan nusantara. Jadi, hamukti palapa bukan berpuasa untuk makan buah palapa (kelapa) sebagaimana kita dengar selama ini. Bagi saya, tafsiran ini sungguh menarik dan patut diperhitungkan.
Lebih dari itu, apresiasi yang dalam dan juga dua jempol patut disampaikan kepada penulisnya yang telah dengan piawai meramu isu-isu tersebut di atas menjadi sebuah cerita yang mengasyikkan ini. Rasanya tak sabar untuk segera membaca sekuel keempat Gajah Mada terkait dengan Perang Bubat yang melegenda sekaligus kontroversial itu!




Gajah Mada 2: Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara

Judul : Gajah Mada #2: Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara
Penulis : Langit Kresna Hariadi
Penerbit : Tiga Serangkai
Tahun terbit : 2006
No. ISBN : 9793301902
Jumlah Halaman : 508
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi(L x P) : 140x210mm

SINOPSIS BUKU
“Bagaskara Manjer Kawuryan? Siapakah orang yang mencoba bermain-main denganku menggunakan nama yang semestinya terkubur bersama kematian X?” Gajah Mada meletupkan rasa penasarannya dalam hati. Sembilan tahun sejak pemberontakan Ra Kuti, baru diketahui orang yang berada di balik nama itu adalah X. Setelah X mati, kini tiba-tiba ada orang lain yang menggunakan nama itu. Pemahaman terhadap kata sandi Bagaskara Manjer Kawuryan sangat terbatas dan nyaris terkubur oleh waktu yang telah bergerak sembilan tahun lamanya. Namun, ternyata di luar sana, entah siapa, setidaknya ada orang yang tahu makna kata sandi itu. Di balik penampilannya yang aneh, menunggang kuda putih, mengenakan jubah berwarna putih, dan menyembunyikan wajah di balik topeng, orang itu mengetahui banyak hal, mengetahui adanya kata sandi Bagaskara Manjer Kawuryan. *** “Buku ini punya kekuatan yang sangat menjebak, menyajikan permintaan yang mengejut, Saya berpendapat semua kalangan dari berbagai disiplin ilmu layak membacanya.” – Prof. Dr. Mulhoto, M.Pd. Guru Besar Sejarah Indonesia UNS
Resensi:
Perseteruan Dua Kekuatan di Balik Takhta yang Kosong
oleh Bahtiar HS
Jayanegara mangkat bukan dalam peperangan dengan pasukan segelar-sepapan, melainkan pada cicipan ramuan obat yang ternyata berisi racun di atas pembaringan ketika ia sedang sakit biasa. Ra Tanca, sang Pembunuh raja yang kebal segala bisa ular yang meracik obat Jayanegara itu pun tewas bersarung keris Gajahmada di ulu hati. Dan terkuaklah siapa “Bagaskara Manjer Kawuryan” setelah lenyap terkubur bumi sejak Ra Kuti madeg kraman sembilan tahun yang silam.
Namun, sang Misterius itu sudah mati membawa serta segala rahasianya. Dan kini Majapahit dihadapkan pada persoalan yang pelik. Jayanegara belum menikah dan karenanya tak punya anak. Apalagi anak laki-laki. Kekuasaan terletak pada dua orang Sekar Kedaton kakak beradik: Sri Gitarja dan Dyah Wiyat. Keduanya adalah putri biksuni Gayatri, istri keempat Raden Wijaya, raja Majapahit pertama.
Persoalannya bukan siapa dari keduanya yang bakal menggantikan raja Majapahit, melainkan justru karena keduanya sudah memiliki calon suami. Raden Cakradara, calon suami Gitarja, dan Raden Kudamerta, calon suami Dyah Wiyat. Di belakang masing-masing calon suami sekar kedaton itu berdiri pihak-pihak yang ingin menguasai kerajaan. Dengan segala cara, tentu. Dan pernikahan dengan sekar kedaton, bagaimanapun, adalah pintu gerbangnya.
Itulah setidaknya fenomena yang berhasil diendus telik-sandi Bhayangkara. Itulah yang kemudian membuat Gajahmada dengan cukup berani meminta kepada keempat ibu ratu, istri-istri Raden Wijaya, untuk tidak dulu mengangkat salah satu dari sekar kedaton menggantikan Jayanegara. Pemerintahan sementara diemban oleh keempat ibu ratu, yang kemudian memilih biksuni Gayatri untuk memimpin sementara Majapahit. Gajahmada ingin memastikan bahwa ancaman bahaya di belakang Cakradara dan Kudamerta benar-benar sudah dibersihkan.
Betapa tidak? Sesaat setelah Jayanegara mangkat dan belum sempat dikuburkan, beberapa orang terbunuh dalam semalam. Panji Wiradapa, Lembang Laut, Klabang Gendis, Kinasthen, Arya Surajaya. Mereka semua adalah prajurit pengawal dan orang dekat Raden Kudamerta. Bahkan Raden Kudamerta, pada acara pengabuan Jayanegara sempat diserang seseorang dengan senjata hingga mengenai dadanya. Untungnya ia tak terluka parah hingga harus menjemput gerbang kematian.
Apakah Cakradara ada di balik pembunuhan berantai ini?
Di sinilah persoalan kemudian ditelusuri Gajahmada dan para anggota Bhayangkara di bawah senopati Gajah Enggon. Gajahmada bahkan harus memeriksa Kudamerta, juga Cakradara. Terkuaklah banyak misteri dan fakta mencengangkan yang selama ini terpendam. Tentang Jayanegara yang pernah mengganggu Nyai Tanca. Tentang Kudamerta yang ternyata sudah beristri sebelum menikahi Dyah Wiyat, meski wanita itu mendadak hilang berikut bayinya di gendongan pada malam pernikahan Kudamerta dengan sekar kedaton. Tentang terdapatnya lambang buah maja terbelit ular pada setiap mayat mereka yang terbunuh. Tentang ditemukannya lambang aneh itu oleh prajurit Bhayangkara di rumah Nyai Tanca; bahkan wanita itu mengaku sebagai yang memiliki ide penciptaan lambang itu. Tentang adanya gerakan mencurigakan di Karang Watu yang tersembunyi: latihan perang pasukan segelar-sepapan. Tentang pengikut Ramapati yang menghilang ketika pejabat culas itu dieksekusi Jayanegara beberapa tahun lalu, yang disinyalir berada di balik semua peristiwa ini. Tentang kematian Pakering Suramurda, paman Cakradara, yang juga memiliki cita-cita untuk menjadikan Cakradara menjadi raja menguasai Majapahit.
Segenap misteri itu harus diungkap satu demi satu oleh Gajahmada dan para prajuritnya. Dan pada akhirnya, terkuaklah dalang segala peristiwa itu. Bahwa Panji Rukmamurti yang ternyata pemimpin pasukan pemberontak di Karang Watu tak lain adalah Nyai Tanca. Bahwa benar, ternyata Brama Rahbumi, pengikut setia Ramapati, berada di balik semua ontran-ontran ini. Ternyata orang ini tak lain adalah Panji Wiradapa alias Rangsang Kumuda, yang melenyapkan dirinya sendiri untuk meninggalkan kesan alibi mengarah padanya. Semua yang dilakukan Brama Rahbumi hanyalah untuk mendepak Cakradara dari kemungkinan menjadi raja. Dia ingin mendudukkan Kudamerta di atas singgasana, yang diyakininya bisa membawa dirinya serta kembali ke tampuk kekuasaan menjadi Mapatih.
***
Lagi-lagi Pak Langit membalut cerita ini dengan misteri yang kemudian diungkap di akhir cerita. Dan bagaimanapun, saat ketika dampar Majapahir lowong dan tak seorang laki-laki pun layak menjadi raja, dan di sisi lain, ada dua orang sekar kedaton yang layak dinaikkan sebagai raja, menjadi seting cerita ontran-ontran yang sangat tepat untuk dimainkan.
Di sinilah Pak Langit bermain. Satu persatu misteri diungkap. Namun, tak seperti pada Gajahmada yang pertama, penguakan fakta dan misteri pada Gajahmada edisi Bergelut dalam Kemelut ini serasa begitu “gampang”. Bagaimana seorang Panji Rukmamurti begitu saja menyerah ketika ditangkap. Bagaimana semua fakta dipertautkan di akhir cerita ketika semua tersangka berhasil ditangkap dan diadili. Seperti mengumpulkan semua wewadi dalam satu panci. Begitu mudah untuk dikait-kaitkan.
Itu perasaan saya, setidaknya jika dibandingkan dengan Gajahmada edisi sebelumnya. Namun, tentu saja hal itu tak mengurani kenikmatan membaca novel Gajahmada buku ke-2 ini. Apalagi Pak Langit melengkapinya dengan lanskap istana Majapahit yang cukup membantu, ditambah dengan berbagai catatan kaki – yang terus terang saya kurang nyaman — yang di satu sisi mungkin mengganggu, tetapi di sisi lain juga membantu pembaca. Gaya bahasa yang digunakan juga lebih “tenang”, tidak banyak perulangan tidak perlu sebagaimana di buku sebelumnya.
Yang agak mengganggu mungkin adalah adanya salah ketik antara menyebut Cakradara keliru Kudamerta, atau sebaliknya. Tetapi asal pembaca mengikuti dengan cermat, kesalahan itu tak perlu mengusik keasyikan membaca. Dan tak seperti pada saat mengungsikan Jayanegara ke Bedander yang penuh petualangan, pada buku ke-2 ini, kesaktian dan keprigelan Gajahmada dalam olah kanuragan tidak kelihatan atau diperlihatkan. Dia tak berkelahi sama sekali! Peran yang paling kelihatan bagi tokoh ini adalah ketika ia bisa mempengaruhi proses peralihan kekuasaan dari Jayanegara kepada penggantinya. Bahwa ia bisa menguasai Bhayangkara sedemikian rupa meski ia sudah menjadi Patih di Kahuripan dan Daha. Bahwa ia lebih menonjol dibandingkan dengan Mapatih Majapahit Arya Tadah. Mungkin penulis sengaja membuat demikian dalam rangka menjadi pijakan bagi buku-buku berikutnya; karena tanggung jawab ke depan Gajahmada akan semakin berat disamping ia akan menjadi tokoh paling berpengaruh bagi Majapahit.
Anyway, selamat dan salut lagi buat Pak Langit. Dan betapa gembiranya saya ketika kemarin bisa bertemu langsung dengan penulis murah senyum itu. Di balik senyumnya yang ramah ternyata terkandung produktivitas menulis yang luar biasa. Setidaknya 10 halaman per hari. Satu buku dalam dua bulan!
***


Gajah Mada


Display Buku
Judul : Gajah Mada
Penulis : Langit Kresna Hariadi
Penerbit :  Tiga Serangkai
Tahun : terbit 2006
No. ISBN : 9793303166
Jumlah Halaman : 694
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi(L x P) : 140x210mm

SINOPSIS BUKU

Membaca novel fiksi sejarah karya Langit Kresna Hariadi berjudul Gajah Mada ini membawa kita ke jaman pemerintahan Jayanegara sewaktu dikudeta oleh Ra Kuti. Ra Kuti adalah sebutan/singkatan dari Rakrian Kuti, sebuah anugerah dari Prabu Jayanegara menjadikan namanya menjadi Rakrian Dharma Putra Winehsuka yang membuat mereka menjadi anak emas kerajaan di jaman itu. Pada jaman yang diceritakan pada buku ini Gajah Mada masih seorang bekel, sebuah pangkat ketentaraan di bawah senopati (belum menjadi sesohor yang diajarkan di buku-buku sejarah yang kita pelajari di sekolahan). Tapi dengan pangkat tersebut Gajahmada menduduki jabatan pimpinan Bayangkara, sebuah pasukan khusus yang melindungi istana, raja dan keluarganya. Pasukan Bayangkara ini terkenal dengan sandi teliknya atau lebih tepat pada masa kini dikenal dengan badan intelijennya atau spionase tingkat tinggi. Ra Kuti atau Rakrian Kuti di novel ini adalah tokoh yang bermuka dua beserta segala kelicikannya. Karena dendamnya kepada Raja Jayanegara yang tidak menaikkannya ke pangkat yang diinginkan, maka dia pun menghasut beberapa temenggung dan beberapa panglima kesatrian untuk menggulingkan Jayanegara. Walaupun didukung oleh para Rakrian dan temenggung serta panglima tersebut, namun atas kecerdikan Gajah Mada dan bantuan Patih Arya Tadah, sang raja Jayanegara dan keluarganya berhasil diselamatkan oleh Gajah Mada dan pasukan bayangkaranya, dan terpaksa diungsikan dari istana menuju tempat yang dirahasiakan oleh Gajah Mada, bahkan kepada anak buahnya di pasukan Bayangkara pun tidak diinformasikannya. Gajah Mada sangatlah piawai dalam memimpin Bayangkaranya, dia berhasil meloloskan dan mengungsikan Prabu Jayanegara dari kejaran Ra Kuti dan sekutunya yang telah mengakibatkan hancurnya tatanan pemerintahan dan masyarakat di kerajaan Majapahit. Namun tidak ada gading yang tak retak, kepiawaian Gajah Mada tersebut ternyata ada yang menggerogotinya yaitu pengkhianatan yang dilakukan oleh orang dalam Bayangkara sendiri yang sempat membuat kericuhan dan kecurigaan antar anggota Bayangkara. Penulis dengan lancar menceritakan alur kejadian lengkap dengan imajinasi yang begitu hidup, penuh dengan kosakata kemiliteran pada waktu itu, seperti deskripsi istana, struktur kemiliteran, persenjataan dan taktik perang seperti brubuh, cakrabyuha, diradameta, supit urang dan banyak lagi. Buku ini pun didalami oleh sang penulis dengan banyak masukan, terutama dari Brigjen (purnawirawan) H. M. Lintang Waluyo atas faktor-faktor sistem kemiliteran yang diangkat oleh sang penulis dalam buku ini. Walaupun sayangnya masih ada beberapa kesalahan penulisan dan penuturan sejarah di dalamnya. Bagaimana akhir cerita novel ini? Berhasilkah Gajah Mada dan pasukan bayangkara mempertahankan dan mengembalikan kekuasaan Majapahit kepada Jayanegara walaupun begitu banyak intrik yang dilakukan oleh Ra Kuti? Sebuah novel fiksi sejarah yang sangat menarik dan wajib dibaca serta dikoleksi.

Sumber: Gajah Mada #1

Candi Murca, Ken Arok Hantu Padang Karautan


 
Judul : Candi Murca, Ken Arok Hantu Padang Karautan
Penulis : Langit Kresna Hariadi
Penerbit : Tiga Serangkai
Tahun : 2007

Review
Awalnya, saya agak ragu melakukan review Novel ini. Pasalnya saya tidak yakin apakah Candi Murca termasuk genre Fiksi/ Fantasy atau Genre Silat/ Sejarah/ Misteri. Akhirnya, sambil masih menyimpan rasa bingung, saya putuskan untuk menganggap Candi Murca bergenre fantasy dengan pertimbangan alternate reality yang Pengarang ciptakan, mulai dari situasi Malang/ Surabaya tahun 2011 Masehi, sampai kondisi Jawa pra-Singasari tahun Saka 1130 yang tentunya merupakan sebuah dunia rekaan sang pengarang. Kuharap it's enough.

Candi Murca, dikatakan merupakan sebuah perpaduan antara Novel Misteri dan Novel Silat. Kali ini pengarang memilih tokoh sejarah Ken Arok, raja pertama Singasari untuk diangkat dalam novel. Setting waktu mengambil alternasi antara tahun Masehi 2011 (masa kini lewat dikit) dan tahun Saka 1136, yang dikatakan berselang 800 tahun. Kemudian konsep adanya sebuah candi raksasa yang 'hilang' (Murca) dengan ukuran melebihi Borobudur, kayaknya wow-factor yang sangat menjual banget! Konsep misteri new-age ini sama uniknya dengan konsep Altantis di Nusantara yang dinovelkan oleh ES ITO di novel Negara Kelima

Melihat halaman sampul buku ini, ingatan langsung tertambat pada serial Gajah Mada. Ada kesamaan gaya desain sampulnya yang unmistakable sebagai "Bukunya Langit KH, neh". Dengan pilihan warna gelap dan grafis komputer yang 'khas', mau gak mau saya langsung lekat ke 'branding' beliau. Mungkin itu juga merupakan satu kelebihan yang jarang dimiliki pengarang kita sekarang ini. Konsistensi desain sampul tampaknya merupakan alat branding yang cukup efektif. Apalagi antara Gajah Mada dan Candi Murca juga bermain pada genre yang kurang lebih sejenis.


TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons