Minggu, Oktober 28

Arus Balik

Judul : Arus Balik
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun Terbit: 2002
Format : pdf

Review:
Sebagai penulis yang pada tempat pertamanya adalah novelis, Pram sengaja memilih menuangkannya hasil penelitiannya dalam bentuk novel daripada suatu karya ilmiah. Bukan tidak  ada maksud kawan, tapi hal inilah yang justru merupakan keistimewaan dari seorang Pramoedya Ananta Toer dibanding novelis-novelis lain. Pram ingin mempresentasikan pesan yang dikandung sejarah bagi semua segmen masyarakat, mulai dari pembaca paling awam sampai pada lingkungan yang paling terpelajar. Lingkaran pembaca seluas-luasnya itulah yag ingin dia jangkau, bukan hanya sejumput intelektual dari lingkaran masyarakat ilmiah, melainkan semua lapisan masyarakat diharapkan dapat mencerna dan memahaminya.
Seperti halnya “Arus Balik” yang sebenarnya adalah suatu bagian dari proyek besar studi sejarah nusantara yang dilakukan Pram sebelum dia ditahan pada tahun 1965, dia tuangkan dalam sebuah novel sejarah dan bukan thesis sejarah. berisi tentang sebuah epos pasca kejayaan nusantara pada awal abad 16, pram ingin kita mencerna dan memahami kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh pendahulu bangsa ini, agar dapat dapat menjadi cerminan dan pelajaran bagi generasi berikutnya.
Dalam “Novel Sejarah”  ini Pramoedya ingin menyuguhkan sebuah pesan moral kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa nusantara kita pernah berjaya. Pramoedya bukannya menangisi kebesaran masa lalu, tidak pula merindukan kejayaan purbakala, tetapi dia bernostalgia dengan masa depan yang cerah. Baginya sejarah adalah cermin paling jernih, referensi terpercaya untuk sebuah perubahan guna membangun masa depan yang lebih baik. Disinilah kita bisa melihat letak kecintaan seorang Pramoedya pada rakyat dan tumpah darahnya.
Sedemikian banyak pelajaran-pelajaran dipersembahkan oleh sejarah dan diteruskan oleh Pramoedya kepada masyarakat luas lewat keunggulan penanya. Dia menulis betapa kekuatan dan kesatuan maritim nusantara pernah memecah ombak samudra damai ke utara, tetapi kemudian arus membalik. Arus raksasa menggelombang dari utara menghempas nusantara mundur ke selatan, kepedalaman yang bahkan lebih jauh lagi mundur sampai ke desa-desa di kaki pegunungan, sehingga yang tertinggal hanyalah negara kota kecil-kecil di pesisir utara Jawa.
Mundur dan terus mundur sampai ke pedalaman bukan hanya secara geografis semata, namun terus mundur pula ke pedalaman nurani dan kenalurian yang mengganti nalar rasional. Khayal dan kenyataan bersimpangan tanpa batas, akhirnya lahirlah mistik Jawa yang menjamur dan membudaya pada perilaku manusianya. Dengan demikian arus balik ini juga mengkisahkan tentang manusia nusantara, manusia jawa, kultur jawa, kisah tentang “the javaneese mind” dengan segala perwatakannya (Ratu Lautan Kidul, dan segala peri parahiyangan yang melingkupinya), kebesarannya, kearifannya, kemunafikannya, dan eufemismenya.
Sebuah interprestasi tantang sejarah nusantara yang sangat jitu dan relevan hingga saat ini. Wawasan kelautannya yang berwatak luas dan menembus kedangkalan dan kekerdilan; sebagaimana juga persatuan dan kesatuan Indonesia dilahirkan dari gelora kebaharian pada masa majapahit yang kemudian digantikan oleh kawasan-kawasan pedalaman agraris mengungkung wawasan berpikir , cenderung membentuk watak kerdil dan kemunafikan akibat tiadanya sentuhan gelombang lautan. Karena itulah sampai sekarang Indonesia tidak henti-hentinya dirundung masalah integrasi dan tersendat perkembangannya disebabkan sebagai kekuatan bahari sejak merdeka justru selalu diatur oleh kekuasaan angkatan darat dengan watak khasnya yang bukan saja tak kenal, malah meminggirkan wawasan kebaharian.
Sejak kecil kita telah banyak diceritakan epos-epos tentang Majapahit dengan segala kebesarannya. Dalam diktat-diktat sekolah disebutkan bahwa Majapahit runtuh pada abad 15 dikarenakan serangan dari kerajaan A dan kerajaan B dan seterusnya..!! akan tetapi tiada terkandung sebuah pesan moral ataupun sebuah keterkaitan pola fluktuatif kejayaan dari kerajaan-kerajaan yang menggantikan kekuasaannya dan lain sebagainya, yang paling tidak bisa dijadikan kajian analisis untuk menambah wawasan tentang problematika bangsa beserta solusinya. Seiring dengan hal itu, setelah membaca novel ini sebuah tamparan serasa menghampiri kita. Bahwa otak kita telah begitu bebal dengan segala kemunduran ini. Dan semoga tamparan Pramoedya dalam novel sejarah ini dapat membalik lagi arus kemunduran menjadi kemajuan seperti halnya watak kebaharian yang berwawasan luas dan rasional serta dapat mengikis habis segala permasalahan yang merundung Indonesia kita tercinta. (Iwan Soebakree)*
Selamat Membaca…!!
*Wakil Ketua Perpustakaan Gresik dan masih aktif sebagai pengajar di salah satu lembaga pendidikan swasta di Surabaya


Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons