Kamis, September 20

Syekh Siti Jenar; Makrifat dan Makna Kehidupan

Judul : Syekh Siti Jenar; Makrifat dan makna kehidupan
Volume 2 dari Syekh Siti Jenar, Achmad Chodjim
Penulis : Achmad Chodjim
Penerbit : Penerbit Serambi, 2007
ISBN  : 9791275645, 9789791275644
Tebal : 331 halaman
 
Ia juga akrab dipanggil Syekh Lemang Abang. Ketinggian Ilmunya mengundang curiga. Wali-wali sepuh yang mengajarnya menyangka dia punya ilmu sihir. Padahal, yang muncul tiba-tiba dan disaksikan oleh santri-santri Giri adalah keramahannya. Tetapi, yang membuat Syekh Siti Jenar mencuat bukan semata-mata ketinggian ilmunya, melainkan praktik hidupnya yang egaliter, merasa sama dengan orang lain.
Keteladanannya dalam beragama mudah diikuti orang lain. Tak heran bila setiap hari mesjid di Pesantren Lemah Abang dipenuhi orang.
Melanjutkan buku sebelumnya – Syekh Siti Jenar: Makna Kematian – buku ini bukanlah sejarah hidup Syekh Siti Jenar, melainkan ulasan ajarannya. Jika buku pertama lebih mengulas eksistensi manusia, buku ini mengupas tauhid, akhlak, dan makrifat Syekh Siti Jenar.
Tauhid yang menjadi landasan pokok dalam beragama ia ajarka hingga tuntas. Sifat 20 tidak diajarkan sebagai sifat Tuhan semata, tapi juga sifat yang disandang oleh hamba-Nya yang Mukmin. Justru di sinilah ajaran Siti Jenar lebih menarik daripada ajaran yang disampaikan oleh para wali lainnya.
Rukun Islam dijabarkan sebagai basis perilaku dalam hidup sehari-hari. Muslim sejati tak sekedar mengucapkan syahadat, mengerjakan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, dan berhaji secara formal. Kalau hanya itu, muslim sulit melepas mentalitas pembangunan yang buruk, mental korupsi dan kolusi. Warisan lama inilah yang hendak diberantas oleh Syekh Siti Jenar.
Bagi Syekh, iman bukanlah semata-mata kepercayaan. Iman harus dapat ditransformasikan dalam kehidupan. Iman bukanlah bekal untuk menghadapi kematian sebagaimana kita membawa bekal dalam perjalanan yang jika kita lapar lalu kita makan. Di tangan Syekh, rukun iman melahirkan ‘kemanunggalan iman, sebagai wujud ‘manunggaling kawula klawan Gusti’ dalam kehidupan nyata di bumi. Rukun Islam dan Iman tidak hanya dipraktikan berdasarkan olah budi dan cipta. Bila tidak berada di atas kehendak Tuhan, keinginan akan mengotori Jiwa (nafs). Hanya bila budi dan cipta telah dipimpin Tuhan, kita akan terlepas dari ketersesatan.
Syekh juga mengupas lugas makna sifat Rasul bagi kehidupan kita, rahasia Sasahidan, dan pandangan revolusioner tentang Hari Akhir.
 
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Artikel Terkait:

2 komentar:

Digoleki Sohibe mengatakan...

2 thumb for him..

Harun Wahib mengatakan...

linknya udah mati bro. maksih

Poskan Komentar

TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons